Ketua tim penelitian, seorang profesor psikologi di University of New South Wales, Joseph Forgas, menemukan orang yang sedang berada dalam mood negatif akan menunjukkan kemampuan untuk menilai orang dan lebih perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. Berbeda dengan orang bahagia, mereka cenderung mempercayai semua yang ia lihat.
mood dan pikiran positif memang baik karena dapat memunculkan rasa optimis. Namun mood negatif pun tidak kalah bermanfaatnya. Dengan mood negatif, otak menjadi lebih aktif, lebih berkonsentrasi, jarang melakukan kesalahan, dan membuat seseorang lebih cerdas. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika Anda sesekali merasakan bersedih, menangis dan berpikiran negatif pada seseorang.http://www.melindahospital.com.
SEDIHLAH PADA TEMPATNYA
SEDIHLAH PADA TEMPATNYA
Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar duniawi. Bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada yang bersedih karena tim sepak bolanya kalah. Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara.
Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya. Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.
Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup ( qana’ah) dengannya. Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup melajang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah. Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap karena tidak dikaruniai anak.
Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari materi duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gejolak dalam jiwa kita.
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”
Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.” Laki-laki itu pun berkata sambil terheran-heran, ”Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab, ”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam ( tahajud ).” Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ….
Shalat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya. Kita bersedih mestinya karena bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !